Pergi ke puncak gunung bersama teman memang satu pengalaman yang
mengasyikan. Kalau kalian mau tahu sifat dan karakter asli teman-teman kalian
sendiri, coba ajak mereka naik gunung! Disana ketahuan deh, mana
yang manja, mana yang care sama temennya, mana yang suka modus, mana yang jadi
pelawak sejati. Soalnya naik gunung itu capek! Ya, bukan main capeknya. Kalau
masih ada yang sempet nge-lucu dengan badan kedinginan, pegel-pegel, kelaperan
tapi jokes2 nya tetep lucu itu berarti mereka pelawak sejati.
Sekitar bulan November 2015 yang lalu, saya dan teman2 #BukanKomunitas pergi mendaki ke gunung Slamet
yang merupakan gunung tertinggi kedua di pulau Jawa dengan ketinggian 3.423
mdpl. Berangkat jam 9 p.m. dari Stasiun Pasar Senen menuju ke Stasiun Purwokerto.
Naik kereta Serayu Malam yang cukup membosankan karena kecepatan tempuhnya yang
lambat dan jalurnya yang muter2, tapi untungnya nge-trip bareng temen yang
asik. Asik ngecengin orang, Asik ngebully temen sendiri, asik
ganggu penumpang lain sampai ditegor petugas kereta.
Ke
Garut lagi. Ini yang ketiga kalinya saya pergi ke Garut untuk edisi pendakian. Meski kotanya sama,
tapi kali ini beda tujuan dan teman perjalanannya.
Pendakian pertama di kota
Garut dulu di gunung Papandayan , sekitar setahun yang lalu lah.
Trus, pendakian yang kedua ke Gunung Guntur sampe maen-maen ke puncak lima.
Seru banget, ngerasain badai di puncak sampai jamuan hangat pak RT & istrinya di kaki Guntur sesaat sebelum pulang ke terminal. (Pak Nanang we love u!)
Membaca berita yang tersebar lewat media sosial maupun warta
online mengenai cuaca buruk yang melanda Gunung Guntur pada tanggal 26 Januari
tidak menyurutkan niat kami untuk tetap melakukan pendakian untuk tanggal 30 Januari. Insiden itu ramai diperbincangkan karena telah memakan korban.
Setibanya di kaki gunung guntur, kami sempat bertanya pada
warga setempat yang katanya mengetahui kejadian itu. Ada yang bilang petir menyambar saat pendaki berkemah di puncak 1 saat cuacanya lagi buruk, pendaki itu asik bermain ponsel, akibatnya percikan listrik menyambar tangan korban
hingga menyebabkan mati rasa. Ada pula yang mengatakan bahwa disekitaran tempat
pendaki itu berkemah, terdapat genangan air yang memicu petir menyambar
kubangan air itu. Alhasil melalui olah TKP, studi kasus danwejangandari para suhu setempat, kami masih diperbolehkan dan aman untuk melanjutkan pendakian.
"Setiap pendakian gunung punya
cerita. Ada yang berkaitan dengan misteri, keindahan,kisahpersahabatan, cerita romantis ataupun sejarah kemerdekaan. Bagi saya pribadi, gunung adalah tempat yang cocok untuk melakukan instropeksi
diri, memupuk kepedulian, dan untuk mengurangi keegoisan yang
selalu eksis didalam diri.
Kesempatan selanjutnya, saya singgah di Gunung Gede. Kembali ditemani oleh kawan-kawan BPJ (Salah satunya Syafroni-yang jepret foto diatas). Start poin di Kampung
Rambutan, berangkatlah kami menuju ke kawasan Taman Nasional Gunung Gede
Pangrango.
Cerita pendakian kami, beserta
para pecinta ketinggian yang lain dimulai sekitar pukul 3 pagi dari kaki gunung menuju ke lokasi
tempat camp d Kandang Badak. Suasana pegunungan ini boleh dikatakan Indonesia
banget! Begini alasannya...
"Bulan
Juni, saya bersama teman-teman Backpackers Jakarta pergi mendaki gunung.Berangkat dari Jakarta, depan halte FK UKI carter angkutan
umum langsung ke kawasan gunung Papandayan. Gunung Papandayan berada di Kabupaten Garut - Jawa Barat yang
merupakan gunung berapi berketinggian 2665 mdpl. Banyak objek menarik yang biasa
dijadikan bahan pemotretan oleh para fotografer, seperti kawah Mas, Kawah Manuk, hutan
mati, serta yang paling utama ialah hamparan edelweis yang indah di pos Tegal Alun.